STUDI FENOMENA INTERAKSI SOSIAL MAHASISWA KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
STUDI
FENOMENA INTERAKSI SOSIAL
MAHASISWA
KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
Abstrak
Sebagai
makhluk sosial, manusia hidup dengan bantuan dan memerlukan orang lain Kehidupan sosial tidak pernah terlepas dengan yang
namanya suatu interaksi. Komunikasi itu diakui sebagai bagian yang tak
terpisahkan dari proses sosial di antara sesama. Interaksi sosial pada umumnya
merupakan kebutuhan setiap manusia. Setiap manusia merupakan mahluk sosial,
maka dari itu setiap mereka membutuhkan interaksi dengan sesamanya. Sehingga
manusia dapat bertahan hidup. Dan seiring dengan berjalannya waktu tingkat
kebutuhan akan adanya interaksi sosial pun semakin meningkat. Dan media untuk
berinteraksi pun semakin banyak. Masing-masing orang memiliki motivasinya
sendiri dalam melakukan interaksi sosial.
Kata kunci : Interaksi
sosial, makhluk sosial
Pendahuluan
Interaksi sosial adalah kegiatan yang mau tidak mau mesti
dilakukan oleh setiap manusia dalam hidup bersosial. Hal tersebut karena
manusia merupakan mahluk sosial yang memerlukan kehadiran manusia lainnya dalam
menjalani hidup.[1]
Interaksi sosial harus didahului oleh kontak dan komunikasi. Komunikasi sebagai
usaha untuk membuat satuan sosial dari individu dengan mengunakan bahasa atau
tanda dan memiliki serangkaian peraturan untuk berbagai kegiatan mencapai
tujuan. Komunikasi sebagai proses interaksi di antara orang untuk tujuan
integrasi intrapersonal dan interpersonal. Untuk mendapatkan suatu pola
hubungan yang harmonis, seorang individu diharapkan memiliki kemampuan untuk
berkomunikasi secara interpersonal dengan orang lain, karena dalam hal ini
komunikasi merupakan dasar bagi seluruh interaksi antar manusia.[2]
Interaksi
merupakan dasar dari suatu bentuk proses sosial karena tanpa adanya interaksi
sosial, maka kegiatan–kegiatan antar satu individu dengan yang lain tidak dapat
disebut interaksi sosial. Begitupula dalam proses ilmu di kalangan mahasiswa
komunikasi penyiaran islam pasti dibutuhkanya interaksi dalam sehari-hari.
Pembahasan
Interaksi
sosial berasal dari kata interaksi artinya
tindakan yang terjadi secara dua orang atau lebih yang bereaksi akan timbal
balik melalui kontak langsung maupun tidak langsung.Sosial yang berarti mencakup saling berkesinambungan
atau bekerja sama seperti halnya manusia merupakan makhluk sosial yang tidak
bisa hidup sendiri dan akan membutuhkan orang lain. Interaksi
sosial adalah hubungan
timbal balik antara individu maupun kelompok untuk menjalin hubungan
pertemanan, diskusi, kerjasama yang diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.[3]
Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) adalah salah satu jurusan
yang berada di bawah naungan Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang berada di
universitas atau institut yang berbasis islami, seperti Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) atau Universitas Islam Negeri (UIN). Pada dasarnya,
KPI adalah jurusan Ilmu Komunikasi. Namun, karena ada di kampus Islam, namanya
ditambah “Penyiaran Islam” sehingga menjadi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).Di
jurusan ini, mahasiswa dibekali ilmu dan keterampilan berkomunikasi untuk
kepentingan syi’ar Islam (dakwah). Penyiaran Islam artinya penyebarluasan
pesan-pesan keislaman.
·
Syarat-syarat interaksi sosial
1. Adanya
kontak sosial
Secara etimologi kontak artinya
bersama-sama menyentuh. Secara fisiologis, kontak akan terjadi dalam bentuk
sentuhan anggota tubuh. Dalam konsep sosiologi istilah kontak sosial akan
terjadi jika seseorang atau sekelompok orang mengadakan hubungan dengan pihak
lain yang mana dalam mengadakan hubungan ini tidak harus selalu berbentuk
fisik, tetapi kontak sosial juga bisa terjadi melalui gejala-gejala sosial
seperti berbicara dengan orang lain melalui pesawat telepon, membaca surat,
saling mengirimkan informasi melalui email dan lain sebagainya. Sehingga kontak
sosial dapat diartikan sebagai aksi individu atau kelompok dalam bentuk isyarat
yang memiliki arti atau makna bagi si pelaku, dan penerima membalas aksi
tersebut dengan reaksi.[4]
2. Adanya
komunkasi sosial
Adapun komunikasi merupakan aksi antara
dua pihak atau lebih yang melakukan hubungan dalam bentuk saling memberikan
penafsiran atas pesan yang di sampaikan oleh masing-masing pihak. Melalui
penafsiran yang diberikan pada perilaku pihak lain, sesorang mewujudkan
perilaku sebagai reaksi atas maksud yang ingin disampaikan oleh pihak lain.
Dalam komunikasi seringkali muncul
berbagai macam penafsiran terhadap makna sesuatu atau tingkah laku orang lain
yang mana ini semua ditentukan oleh perbedaan kontek sosialnya. Komunikasi
dapat diartikan sebagai proses saling memberikan tafsiran kepada/dari antar
pihak yang sedang melakukan hubungan dan melalui tafsiran tersebut pihak-pihak
yang saling berhubungan mewujudkan perilaku sebagai reaksi atas maksud atau
pesan yang disampaikan oleh pihak lain tersebut.[5]
·
Bentuk-bentuk Interaksi Sosial
Menurut
Soerjono Soekanto pada dasarnya ada dua bentuk umum dari interaksi sosial
yaitu, bentuk umum Asosiatif dan Disosiatif.
1. Asosiatif
Suatu interaksi sosial dapat dikatakan
asosiatif jika proses dari interaksi sosial tersebut menuju pada suatu
kerjasama. Interaksi sosial asosiatif sendiri dapat dibagi kedalam 3 bentuk
khusus interaksi yaitu:
a. Kerjasama
Kerjasama dimaksudkan sebagai suatu
usaha bersama antar individu atau kelompok demi tercapainya tujuan bersama.
Kerjasama timbul karena ada orientasi dari individu terhadap kelompoknya (yaitu
in-grupnya) dan kelompok lainnya (yang merupakan out-groupnya). [6]
b. Akomodasi
Akomodasi merupakan suatu upaya yang
dilakukan untuk menyelesaikan suatu pertikaian atau konflik dari pihak-pihak
yang bertikai yang mengarah pada kondisi atau keadaan selesainya suatu konflik
pertikaian tersebut.
c. Asimilasi
Asimilasi merupakan proses sosial yang
ditandai oleh adanya upaya-upaya mengurangi perbedaanperbedaan yang terdapat
antara orang perorangan atau antara kelompok sosial yang diikuti dengan
usaha-usaha untuk mencapai kesatuan tindakan, sikap, dan prosesproses mental
dengan memperhatikan kepentingan bersama.
2. Disosiatif
Interaksi yang disosiatif dapat diartikan
sebagai suatu perjuangan melawan seseorang atau sekelompok orang. Interaksi
yang disosiatif dibagi dalam tiga bentuk yaitu sebagai berikut:
a. Persaingan
Persaingan dapat diartikan sebagai suatu
proses sosial dimana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing
mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa
tertentu menjadi pusat perhatian umum (baik perseorangan maupun kelompok
manusia) dengan cara menarik perhatian publik atau dengan mempertajam prasangka
yang telah ada, tanpa menggunakan ancaman atau kekerasan. Persaingan dapat
bersifat pribadi dan dapat juga bersifat antar kelompok.
b. Kontravensi
Kontravensi pada hakekatnya merupakan
suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan atau
pertikaian. Kontravensi ini ditandai dengan adanya gejala-gejala ketidak
pastian mengenai diri seseorang atau suatu rencana dan perasaan tidak suka yang
disembunyikan, kebencian atau keragu-raguan terhadap keperibadian seseorang.
Perasaan seperti ini akan berkembang menjadi sebuah kemungkinan, kegunaan,
keharusan, atau penilaian terhadap suatu usul, buah pikiran, 30 kepercayaan,
atau rencana yang rencana yang dikemukakan orang-perorangan atau kelompok
manusia lain.
c. Pertentangan
dan Pertikaian
Pertentangan atau pertikaian merupakan
suatu proses sosial dimana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi
tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman atau
kekerasan. [7]
·
Faktor-faktor Interaksi sosial
faktor-faktor
yang melatar belakangi proses interaksi sosial didasarkan pada imitasi,
sugesti, identifikasi, dan simpati.
1. Imitasi
Imitasi merupakan tindakan manusia untuk
meniru tingkah pekerti orang lain yang berada disekitarnya. Dalam interaksi
sosial faktor imitasi mempunyai peranan yang sangat penting. Hal ini dapat
dilihat dari segi positifnya yang mana imitasi dapat mendorong seseorang untuk
mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku, tetapi selain memiliki
sisi posisitif imitasi juga dapat berakibat negatif apabila misalnya yang
ditiru adalah tindakan-tindakan yang menyimpang selain itu juga imitasi dapat
menghambat perkembangan daya kritis berfikir.
2. Sugesti
Sugesti dapat dipahami sebagai tingkah
laku yang mengikuti polapola yang berada dalam dirinya lalu diterima dalam
bentuk sikap dan perilaku tertentu. Proses sugesti ini bisa saja terjadi ketika
orang yang memberikan pandangan adalah orang yang berwibawa.
3. Identifikasi
Identifikasi merupakan
kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk
menjadi sama dengan 32 dengan pihak lain. Proses identifikasi ini berlangsung
dalam suatu keadaan dimana seseorang yang beridentifikasi benar-benar mengenal
pihak lain yang menjadi idealnya, sehingga pandangan maupun sikap dari pihak
lain tersebut dapat melembaga dan bahkan menjiwainya.
4. Simpati
Proses simpati merupakan suatu proses dimana
seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Prose simpati ini dapat berkembang apabila
adanya saling mengerti terjamin dalam proses ini.[8]
Dalam kehidupan
mahasiswa komunikasipenyiaran islam, interaksi sosial yang terjadi berjalan
dengan baik ini dibuktikan dengan terpenuhinya syarat interaksi sosial. Juga
interaksi yang terjadi sesuai dan dapat diidentifikasi sesuai dengan
bentuk-bentuk dan fator-faktor dari Interaksi sosial.
Kesimpulan
Interaksi sosial yang terjalin dengan baik, dimana
mahasiswa saling berhubungan dan berkomunikasi dengan baik. Dalam kehidupan
bersama, antar individu satu dengan individu lainnya terjadi hubungan dalam
rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Melalui hubungan itu individu ingin
menyampaikan maksud, tujuan, dan keinginannya masing-masing. Untuk mencapai
keinginan tersebut biasanya diwujudkan dengan tindakan melalui hubungan timbal
balik.
[1] https://katadata.co.id/safrezi/berita/61de96cad59a5/arti-interaksi-sosial-syarat-jenis-dan-faktornya
diakses tanggal 11 juni 2022 pukul 22.38
[2] M
puspitasari, “interaksi sosial” hal 4
[3] https://www.gramedia.com/literasi/interaksi-sosial/
diakses tanggal 12 juni 2022 pukul 18.33
[4] Elly M.
Setiadi & Usman Kolip, Pengantar Sosiologi, (Jakarta: Kencana, 2011), hal.
73
[5] Prof.
Dr. Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2013) , hal. 60
[6] Dany
Haryanto, S.S & G. Edwi Nugrohadi, S.S., M.A, Pengantar Sosiologi Dasar,
(Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya), hal. 219
[7] http://digilib.uinsby.ac.id/312/5/Bab%202.pdf
diakses tanggal 12 juni 2022 pukul 19.35
[8] Prof.
Dr. Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2013), hal. 67
Komentar
Posting Komentar